}); Rengo, ILO Associate, Aktivis Buruh, Pengacara dan Jurnalis Jepang Kunjungi Kantor DPP KSPI – KSPI
Sun. Aug 18th, 2019

KSPI

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia

Rengo, ILO Associate, Aktivis Buruh, Pengacara dan Jurnalis Jepang Kunjungi Kantor DPP KSPI

3 min read

Jakarta, KSPI – Pada Rabu, 27 Maret 2019, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mendapatkan kehormatan dikunjungi oleh serikat pekerja terbesar di Jepang, Rengo. Kunjungan kerja ini, merupakan rangkaian kunjungan kerja Rengo dalam menjalin kerjasama dengan seluruh serikat buruh/serikat pekerja yang ada di Asia.

Kunjungan para sahabat perwakilan Serikat Pekerja Jepang, Rengo ke Kantor DPP KSPI, dalam rangka berdiskusi dan berdialog mengenai situasi dan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Dalam dialog dan diskusi tersebut, Said Iqbal selaku Presiden KSPI dan juga Presiden FSPMI memaparkan beberapa point penting dalam pertemuan bersejarah tersebut.

“Saat ini di Indonesia, sistem pengupahan telah di kebiri oleh adanya aturan dan kebijakan PP 78/2015. Bahkan telah terjadi kriminalisasi terhadap 26 orang aktivis buruh, ketika buruh-buruh Indonesia melakukan perlawanan pada 30 Oktober 2015. Mereka ditangkap seperti pelaku kriminal, dipukuli tanpa melakukan perlawanan, dan mereka harus mengalami status sebagai terdakwa. Meskipun telah di vonis bebas, luka yang cukup mendalam, masih sangat berbekas di hati kami” tutur Said Iqbal kepada seluruh peserta diskusi dan dialog dan para sahabat dari perwakilan Rengo, ILO Associate, aktivis buruh, pengacara dan jurnalis yang berjumlah 22 orang.

Tidak hanya itu, Presiden KSPI yang juga merupakan Presiden FSPMI tersebut, juga memaparkan dengan detail, beberapa hal penting lainnya. Diantaranya situasi dan kondisi perpolitikan di Indonesia, harapan dan cita-cita kaum buruh Indonesia tentang kesejahteraan dan posisi kaum buruh Indonesia dalam kancah politik Indonesia. Hal-hal tersebut dirasa cukup penting untuk diungkapkan ke permukaan, sehingga kekuatan kaum buruh Indonesia yang sebenarnya, dapat diperhitungkan oleh pihak rezim penguasa saat ini.

Okuda Hinami yang menjadi pimpinan rombongan, juga diikuti oleh perwakilan Rengo, ILO Associate, aktivis buruh, pengacara dan jurnalis dari Jepang, yang menyambangi Kantor DPP KSPI, mengapresiasi atas apa yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan oleh buruh-buruh di Indonesia, khususnya buruh-buruh KSPI. Sebagai motor pergerakan kaum buruh di Indonesia, peranan KSPI memang sangat diperhitungkan, baik di kancah Nasional maupun Internasional.

Lebih lanjut, Okuda Hinami pun menjelaskan dan memaparkan tujuan dari kunjungan kerja tersebut. Agar terciptanya hubungan yang baik antar lembaga serikat pekerja, memperkuat jaringan dengan serikat pekerja yang ada di Asia dan dunia, hingga menjalin komunikasi yang terus menerus, agar peta kekuatan kaum buruh dipandang sebagai kekuatan obyek penentu, bukan sebagai penonton.

Banyak manfaat dan wawasan yang didapat oleh kedua belah pihak. Terlebih lagi, ketika memaparkan dengan detail tentang permasalahan dan peranan gerakan serikat pekerja dan sistem jaminan sosial dari kedua negara. Ada banyak kesamaan aturan dan kebijakan diantara kedua negara, akan tetapi tidak sedikit Indonesia harus banyak belajar dari aturan dan kebijakan ketenagakerjaan yang telah diterapkan di Jepang.

Gerakan Serikat Pekerja Jepang sendiri dimulai dari zaman restorasi Meiji (1868-1945) dengan dibentuknya Roudoukumiai Kiseikai (1897), yaitu organisasi yang bertujuan untuk pembentukkan serikat pekerja. Masa-masa ini gerakan serikat pekerja banyak mengalami tekanan, tapi hal itu tidak menyurutkan gerakan serikat pekerja sampai pada akhirnya keluar Undang-Undang Serikat Pekerja pada tahun 1945 dan terbentuknya Konfederasi Serikat Tenaga Kerja Jepang (RENGO) pada tahun 1989 dengan jumlah anggota 7,6 Juta Orang.

Pergerakan Rengo mengalai peningkatan yang signifikan karena dikelola secara profesional di mulai dari struktur organisasi, standar iuran serikat pekerja, prinsip dasar organisasi, Shunto (serangan upah musim semi ), hubungan dan sistem konsultasi industrial, gerakan produktivitas pekerja dan memperbaiki sistem dan 17 kebijakan yang meliputi ekonomi, pajak, lapangan kerja industri, pekerja, kesejahteraan dan jaminan sosial, rumah dan tanah, tanah nasional, transportasi, sumber daya alam dan energi, informasi teknologi, hak azasi dan persamaan hak, pendidikan, lingkungan, bahan pangan pertanian hutan dan laut, reformasi politik, reformasi hukum dan administratif pemerintah, serta internasional.

Standar iuran anggota Rengo sebesar 1,62% dari upah bulanan, dimana rata-rata upah bulanannya sebesar ¥ 304.104 (Tigaratus Empat Ribu seratus empat Yen). Jika satu yen katakanlah 126 rupiah, maka upah rata-rata di Jepang adalah 38,3 juta. Jadi, iuran mereka sekitar Rp 383.000. Dari iuran yang masuk ke RENGGO, diperuntukkan untuk: 35,7% untuk biaya personalia, 12,7% iuran ke organisasi di atasnya ,dan 51,6% biaya kegiatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.