Jakarta KSPI- Kasus perselisihan hubungan industrial di PT Smelting masuki babak baru,
sejak mendapat teguran Ketua Pengadilan Negeri Gresik pada 31 Januari 2019 yang lalu, agar mematuhi putusan secara suka rela, hingga kini PT Smelting Gresik belum menunjukkan itikad baiknya untuk menjalankan putusan tersebut. Oleh karena itu pihak pekerja PT Smelting Gresik yang mengajukan gugatan berniat menggunakan langkah berikutnya yaitu mengajukan permohonan sita aset PT Smelting.

Menurut koordinator pekerja PT Smelting Gresik, Zaenal Arifi (28/7) lalu, pihaknya akan dengan gigih mempertahankan haknya dan terus mencari keadilan. “Sebagaimana diketahui pada hari Jum’at, 21 Desember 2018, pihak pekerja telah mengajukan permohonan eksekusi terhadap putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia nomor: 388 K/Pdt.Sus.PHI /2018 tanggal 23 Mei 2018 jo putusan PHI pada Pengadilan Negeri Gresik nomor: 16/Pdt.Sus-PHI/2017/PN.Gsk. tanggal 11 Desember 2017 yang telah berkekuatan hukum tetap,” terang Zaenal.

Ditambahkan Zaenal, bahwa Ketua Pengadilan Negeri Gresik telah mengeluarkan surat aanmaning dengan nomor: 1/Ekd/Pdt.Sus-PHI2019/PN.Gsk. pada tanggal 31 Januari 2019. Hal ini karena hingga batas waktu yang ditentukan pihak PT Smelting Gresik selaku termohon belum juga melaksanakan kewajibannya membayar hak-hak pekerja sebesar 21,3 milyar.

“Sampai kini nasib ratusan pekerja itu terkatung-katung akibat keputusan yang belum dipatuhi pihak PT Smelting Gresik. Entah ada kekuatan dari mana sehingga sampai sekarang pihak PT Smelting berani mengangkangi keputusan pengadilan,” ujar Zaenal heran.

Karena sampai saat ini para pekerja belum juga menerima pembayaran, maka menurut Zaenal, pihaknya akan tetap berjuang mengupayakan haknya. “Kami akan berjuang bersama-sama sesuai konstitusi, meskipun ada pihak-pihak tertentu yang mem-back up PT Smelting untuk menunda atau bahkan menolak membayarnya,” tegasnya.

Para pekerja PT Smelting akan terus berupaya sampai titik darah penghabisan agar, nasib mereka bisa diselesaikan sesuai aturan yang berlaku. “Kami mempertanyakan ke mana hak kami dialihkan. Kami hanya minta hak kami diberikan, tidak lebih. Kami bekerja bukan tidak menguntungkan pihak perusahaan, selama 20 tahun bekerja kami telah membawa pabrik meraih untung melebihi target. Kalau kesepakatan dilanggar dan kami dirugikan maka kami mempertanyakan mengapa kami harus dirugikan setelah kami memberikan keuntungan?” tanya Zaenal.

Oleh karena itu para pekerja PT Smelter mengadu kepada pihak-pihak terkait, seperti Pengadilan Hubungan Industri pada Pengadilan Negeri Gresik, pada Kamis (25/7) lalu. Meski para pihak sudah membenarkan upaya para pekerja, pihak PT Smelting sama sekali tidak mengindahkan keputusan Pengadilan Negeri Gresik, bahkan terkesan acuh tak acuh.

“Selama upaya kami belum terselesaikan insya Allah sampai kapanpun akan tetap kami upayakan, karena prinsip kami apa yang kami upayakan benar secara hukum, dan tidak melanggar ketentuan yang berlaku di Republik ini,” pungkas Zaenal.

sumber : PT Smelting Gresik Belum Mematuhi Teguran PN Gresik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close