Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Perantau Minang : Kebijakan PPKM Harus Berpihak Kepada Pedagang Kecil

Jakarta,KSPI- Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Perantau Minang angkat suara terkait pelaksanaan PPKM Level 4.Seperti yang diketahui bersama Senin, 2 Agustus 2021 hari terakhir Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagai langkah menekan peningkatan penularan Covid se Jawa – Bali, dan apakah akan diperpanjang atau tidak oleh pemerintah, hingga rilis ini kami turunkan, belum ada keputusan lanjutan dari Pemerintah.

Seperti kita ketahui sebelumnya pemerintah telah menerapkan PPKM darurat untuk wilayah Jawa – Bali pada 3 – 20 Juli 2021, dan selanjutnya pemerintah memberlakukan PPKM level 4 pada 21-25 Juli, kemudian, pemerintah memutuskan untuk memperpanjangnya hingga 2 Agustus 2021.

Untuk selanjutnya apakah kebijakan PPKM level 4 ini akan diperpanjang pemberlakuannya oleh pemerintah, banyak para pengusaha, pedagang kecil kaki lima, UMKM dan para pedagang lainnya berharap keputusan PPKM tidak dilanjutkan, jikapun ingin dilanjutkan harus berpihak kepada para masyarakat khususnya pedagang kecil, pedagang makanan, dan UMKM.

Dedi Hartono Chaniago selaku Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Perantau Minang Chaniago meminta agar pemerintah segera memberikan keputusan yang jelas dan berpihak kepada masyarakat khususnya kepada para penggerak UMKM pedagang pasar kaki lima, pedagang makanan dan minuman dalam rangka memastikan keberlangsungan usaha para pedagang kecil di Indonesia.

Berdasarkan aturan pemerintah, bagi pedagang kaki lima, toko kelontong, agen/outlet voucher, barbershop/pangkas rambut, laundry, pedagang asongan, bengkel kecil, cucian kendaraan, dan lain-lain yang sejenis diizinkan buka dengan Syarat tempat usaha mereka diwajibkan menerapkan protokol kesehatan ketat dan jam operasional dibatasi sampai dengan pukul 20.00 waktu setempat.

“Lebih dari 1000 pedagang pasar kaki lima, pedagang makanan, dan penggerak UMKM di Jakarta mengeluh dan menjerit karena kebijakan PPKM dengan syarat yang menyulitkan sangat berdampak pada penghasilan mereka yang mengalami penurunan pendapatan sangat tajam hingga mencapai 70% dibandingkan hari biasa saat musim pandemi, yang mana kita ketahui saat musim pandemi saja penghasilan para pedagang turun drastis 30%-70% dari hari normal sebelum adanya pandemi, padahal banyak pedagang yang jenis usahanya di bidang makanan dan minuman khas Minang seperti Sate Padang, Nasi Padang, Kue-kue khas Padang, dan berbagai jenis usaha kuliner yang juga sangat dibutuhkan masyarakat disaat pandemi.” Ujar Dedi Hartono

“Sebelum PPKM Darurat dan Level 4 diberlakukan, para pedagang Minang yang menjual makanan dan minuman khas di pinggir jalan ini bisa mencapai omset 1 hingga 2 juta rupiah perhari, dengan durasi waktu jualan sejak sore hari pukul 14:00 hingga pukul 22:00 -23:00 malam, karena kekhasan dari dagangan yang dijualnya ini butuh waktu tertentu untuk dikenal oleh para konsumen secara luas, kecuali orang Minang yang tinggal di Jakarta dan rindu makanan khas Padang, mereka lebih mudah mengenalnya” Ungkap Dedi Hartono yang juga menjabat Dewan Pengupahan Aspek Indonesia wilayah DKI Jakarta.

“Namun dengan aturan PPKM yang membatasi jam operasional dan memberikan persyaratan yang menyulitkan bagi para konsumen, sudah bisa dipastikan para pedagang ini akan gulung tikar karena sepinya pembeli.” Lanjut Dedi Hartono Chaniago.

Apabila kebijakan PPKM terus dilanjutkan, akan sangat sulit bagi para pedagang, karena mereka para pedagang makanan khas minang di kaki lima ini mayoritas memulai usahanya pukul 14:00 WIB dengan proses awal persiapan sekitar 1 sampai 2 jam sebelum buka lapak ditambah proses menutup barang dagangannya membutuhkan waktu lagi 1 sampai 2 jam, praktis mereka hanya punya waktu untuk usaha dagang hanya 1 sampai dengan 2 jam saja yang sulit bisa optimal dalam menjajakan dagangannya.

Harapan kami apabila kebijakan PPKM terus dilanjutkan, untuk para pedagang kaki lima khususnya yang biasa buka lapak dagangan di sore hari dapat diberikan kebijakan khusus untuk penambahan waktu usaha hingga pukul 22.00 sampai pukul 23.00 WIB atau 5 hingga 6 jam perhari agar usaha para pedagang kaki lima yang merupakan penggerak ekonomi masyarakat bawah ini dapat berjalan secara optimal.

Saat ini Anggota Asosiasi Pedagang Pasar Perantau Minang Chaniago di Jabodetabek mencapai lebih dari 1000 an pedagang yang tersebar dengan sektor usaha kuliner makanan, minuman, restoran, dan jasa yang banyak menjual ke Khasan minang.

Usaha ini diharapkan dapat mengenalkan kepada masyarakat luas tentang makanan kuliner khas Minang daerah dan diharapkan dapat dikolaborasikan dengan pemerintah daerah setempat dan daerah provinsi Sumatera Barat guna melestarikan budayanya di Indonesia Tutup Dedi Hartono.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*